Hari Wisata Dunia 27 September, Ini Pesan Nia Niscaya
Penguatan Protokol Kesehatan dalam Sektor Pariwisata
Pandemi global yang melanda dunia sejak 2020 memaksa seluruh sektor, termasuk pariwisata, untuk menyesuaikan diri dengan protokol kesehatan. Di tengah situasi ini, Hari Pariwisata Sedunia yang jatuh pada tanggal 27 September menjadi momentum penting untuk memperkuat kebijakan kesehatan berbasis CHSE (Cleanliness, Health, Safety, dan Environmental Sustainability) di berbagai sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.
Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Nia Niscaya, menyampaikan bahwa penerapan protokol kesehatan harus disertai dengan upaya menjaga lingkungan tetap lestari. Ia menekankan pentingnya mengintegrasikan keberlanjutan lingkungan dalam setiap langkah pengelolaan destinasi wisata.
Peran Transportasi Udara dalam Adaptasi Baru
Transportasi udara menjadi salah satu sektor yang sangat vital dalam mendukung pergerakan wisatawan. PT Angkasa Pura II dan PT Angkasa Pura I telah mengambil inisiatif dengan menerapkan kampanye "Safe Travel Campaign" untuk memastikan keamanan, kesehatan, dan kebersihan di bandara.
Salah satu contoh implementasi kampanye ini adalah penerapan teknologi seperti touchless parking machine, touchless elevator, serta penggunaan sinar UV-C untuk membunuh bakteri dan virus pada permukaan yang sering disentuh. Hal ini memberikan rasa aman bagi para penumpang pesawat terbang.
Pengembangan Destinasi Wisata Berkelanjutan
Selain transportasi, pengembangan destinasi wisata juga menjadi fokus utama. Wilayah-wilayah seperti Danau Toba dan Lombok sedang berupaya memperkuat penerapan protokol kesehatan berbasis CHSE. Di Danau Toba, proses pembentukan desa wisata sedang berlangsung, sementara di Lombok, empat area destinasi wisata akan melakukan standarisasi CHSE.
Keberlanjutan Lingkungan dan Budaya Lokal
Pengelolaan destinasi wisata tidak hanya berfokus pada kesehatan, tetapi juga pada pelestarian lingkungan dan budaya lokal. Bandara-bandara yang dikelola oleh Angkasa Pura I, misalnya, berada di dekat destinasi wisata dan harus menjaga kelestarian lingkungan sekitarnya. Selain itu, upaya pelestarian budaya di pedesaan juga menjadi bagian dari strategi pengembangan pariwisata.
Dukungan dari Pemerintah dan Industri
Kepala Dinas Pariwisata Sumatera Utara, Muchlis, dan Kepala Dinas Pariwisata Nusa Tenggara Barat, Lalu Mohammad Faozal, menyampaikan bahwa sektor pariwisata di daerah mereka sedang bangkit di era adaptasi kebiasaan baru pasca-pandemi. Mereka berkomitmen untuk menerapkan protokol kesehatan di destinasi wisata dan mengembangkan potensi desa wisata.
Kesimpulan
Hari Pariwisata Sedunia menjadi momen penting untuk memperkuat komitmen semua pemangku kepentingan dalam menjaga kesehatan dan keberlanjutan lingkungan. Dengan penerapan protokol kesehatan berbasis CHSE, sektor pariwisata dapat tetap berkembang tanpa mengorbankan kesejahteraan masyarakat dan alam.